Mitos atau Fakta : Banteng Marah Melihat Kain Merah
Kalau ngomongin banteng, pasti ada satu adegan yang langsung kebayang: banteng ngamuk, terus matador mengibaskan kain merah, dan si banteng langsung ngegas mengejar. Dari kecil kita sering melihat adegan seperti ini di film, kartun, bahkan cerita orang-orang. Makanya muncul anggapan bahwa banteng memang punya “dendam pribadi” sama warna merah. Tapi, apakah benar banteng bisa langsung marah hanya gara-gara melihat warna merah? Ternyata, cerita yang selama ini beredar itu lebih dekat ke mitos daripada fakta.
Mitos atau fakta?
Pertama, mitos: banteng membenci warna merah. Penelitian tentang penglihatan sapi menunjukkan bahwa sapi termasuk banteng memiliki penglihatan dikromatik, yaitu hanya memiliki dua jenis sel penerima warna utama, berbeda dengan manusia yang memiliki tiga. Artinya, banteng tetap bisa melihat warna, tetapi kemampuan membedakan warna tidak sama seperti manusia.
Kedua, fakta: gerakan kain lebih berperan dalam menarik perhatian banteng. Penelitian perilaku menunjukkan sapi dapat membedakan beberapa warna, sehingga anggapan bahwa banteng sama sekali tidak bisa melihat warna juga kurang tepat.
Ketiga, mitos: kain merah adalah penyebab utama banteng menyerang. Dalam pertunjukan matador, kain yang dikibaskan bergerak secara mencolok di depan banteng. Gerakan tersebut jauh lebih mungkin menjadi pemicu perhatian dan respons banteng dibandingkan warna merahnya. Bahkan, banteng juga dapat merespons kain atau objek lain yang digerakkan di hadapannya.
Fakta menariknya, warna merah pada kain matador sebenarnya lebih terkenal di mata manusia daripada di mata banteng. Bagi banteng, warna merah tidak mempunyai efek khusus yang secara otomatis membuatnya “naik pitam”. Jadi, kalau kain merah diganti dengan warna lain lalu tetap dikibaskan dengan gerakan yang sama, bukan berarti banteng akan santai begitu saja. Penelitian mengenai persepsi warna pada sapi bahkan menunjukkan bahwa sapi mampu membedakan beberapa rangsangan warna tertentu, sehingga istilah “buta warna” pada banteng sebaiknya tidak dipahami sebagai mereka hanya melihat dunia hitam-putih. Dengan kata lain, gambaran banteng yang marah karena melihat warna merah hanyalah penyederhanaan dari perilaku yang jauh lebih kompleks. Lingkungan, gerakan objek, situasi, serta rangsangan lain bisa ikut memengaruhi respons hewan tersebut.
Jadi, kesimpulannya cukup simpel: banteng bukan marah karena warna merah, tetapi lebih tertarik atau terpicu oleh gerakan kain dan situasi di sekitarnya. Jadi kalau selama ini kita mengira warna merah adalah tombol “mode ngamuk” milik banteng, ternyata itu cuma mitos yang sudah telanjur populer.